Fashion

Kamu Harus Disiplin!

 

Pertanyaan dia atas pasti sering menghinggapi para orang tua. Rasanya sulit mengharapkan anak untuk disiplin. Peran orang tua dalam membesarkan anak adalah mengajarkan mereka untuk menjadi anak yang disiplin. Tapi, saat di panggil saja banyak anak yang cuek atau pura-pura tidak mendengar panggilan ayah atau ibunya. Belum lagi anak-anak muda sangatlah impulsif.
Anak harus mampu menahan diri agar tidak melakukan hal-hal yang dapat merugikan dirinya sendiri. Oleh sebab itu, disiplin sudah harus di tanamkan sejak usia dini agar anak mampu mengendalikan dirinya sendiri. Harus memperkenalkan disiplin yang positif kepada anak.

Apa itu disiplin positif?
Jika di lihat dari kata positif dapat kita pahami, displin positif tidak menggunakan hal-hal negatif seperti bentakan, pukulan dan hal-hal buruk lainnya. Stop membentak, mengatur dengan suara keras, dan selalu menawarkan hukuman jika salah, jika gagal, atau jika anak menangis di tempat umum.
Seperti di kutip dalam www.keselamatankeluarga.com berikut adalah pernyataan yang disampaikan Flanagan pada tahun 2003 lalu. Menurut Flanagan (2013) dalam presentasinya di “Australasian Conference on Child Abuse and Neglect”, disiplin positif adalah tentang upaya orang tua dalam; Memperkuat hubungan dengan anak;
Memahamiperspektif anak-anak; Membangun empati; Mempromosikan pengaturan diri (self-regulation); Mengurangi hukuman; Memperkuat kepercayaan, dan; Memfasilitasi pemecahan masalah. Dalam hal ini, Flanagan menjelaskan lebih lanjut disiplin positif secara operasional sebagai berikut:

A. Disiplin positif bukanlah:
Membiarkan anak melakukan apapun yang mereka mau.
Tidak memiliki aturan.
Bereaksi cepat terhadap situasi.
Menghukum daripada memukul atau membentak.

B. Disiplin positif:
Membantu anak mengembangkan kontrol diri sepanjang waktu.
Mengomunikasikan dengan jelas.
Menghormati anak dan mendapatkan rasa hormat dari mereka.
Mengajari anak bagaimana membuat keputusan yang baik.
Membangun keterampilan dan kepercayaan diri anak.
Mengajarkan sikap respek anak terhadap perasaan orang lain.

Orang tua harus memerhatikan tahapan perkembangan anak. Lakukan pendekatan yang sesuai dengan tahap kembang anak. Dalam hal ini diharapkan orang tua telah memberikan pengertian kepada anak bahwa orang tua adalah pempimpin di rumah yang dihormati untuk menyediakan dan mengarahkan anak pada referensi yang kaya terkait dengan standar perilaku yang sedang dibangunnya.
Otoritas yang dimiliki orang tua di rumah harus di bangun dengan kasih. Bukan berarti sebagai pemimpin di rumah orang tua dapat mengatur anak dengan sedemikian rupa tanpa memahami keinginan anak. Tapi jadilah seorang pemimpin yang memiliki otoritas berdasarkan kasih. Misalnya menjadi model yang dapat di contoh anak dalam tanggung jawab, karakter yang tidak pernah berbohong, dan sosok yang dapat menjadi teladan bagi anak.
Memilih kata-kata yang positif bagi anak akan lebih baik dari pada kata-kata perintah yang terkesan negatif atau menyebalkan bagi sang anak. Gunakan kata tolong jika orang tua perlu bantuan, sertakan alasannya jika ada suatu larangan sedang disampaikan orang tua kepada anak. Misalnya, “hindari kompor ini nak karena panas mama tidak ingin kamu terluka!”.
Segala susuatu yang orang tua ucapkan maka haruslah berjalan demikian. Lakukan segala sesuatu yang di ucapkan dengan konsisten. Hal itu akan membiasakan anak untuk menjadi pribadi yang memiliki konsistensi pada prinsip dan ucapan yang tinggi. Hal itu pula akan membuat anak menjadi tidak meyepelekan ucapan orang tua dan percaya penuh pada ucapan orang tua. Ucapkan segala sesuatunya dengan tepat kepada anak bukan suatu ucapan yang tidak berarti atau ambigu. Misalnya, “Jangan letakkan piring kotormu di atas meja makan!”, tapi sebaiknya “langsung letakkan piring kotormu di dapur agar tidak lupa di berihkan nanti”.
Mengenalkan batasan pada anak akan berdampak sangat baik. Beberapa waktu lalu, saya mendengar keluhan orang tua yang mengeluhkan sikap anaknya yang terlalu suka bermain tanpa belajar, alhasil nilai ujian sang anak sangat jelek. Tapi masalahnya orang tua tersebut takut jika anak akan mencari kesenangan di luar rumah kalau terlalu banyak larang pada anak di dalam rumah. Dari permasalahan tersebut, orang tua harus dengan tegas dan tepat mengenalkan batasan-batasan yang ada agar anak dapat hidup lebih terarah dan memiliki pola hidup yang baik. Misalnya anak diberikan izin bermain satu jam jika anak tersebut telah belajar atau mengerjakan PR (pekerjaan rumah) dengan baik. Batasan yang jelas akan membuat anak merasa nyaman dalam menjalankannya.
Hukuman akan lebih baik jika di ubah menjadi konsekuensi. Berikan pengertian pada anak bahwa setiap kesalahan pasti memiliki sebuah konsekuensi. Tanamkan hal tersebut agar anak dapat menerima semua keadaan dalam hidupnya dengan lapang dada dan terhindar dari keterpurukan. Dengan menanamkan hal ini akan membuat anak lebih bertanggung jawab dalam mengambil keputusan. Sampaikan bahwa saat seseorang bermail api maka akan terbakar, tidak belajar saat ulangan maka akan mendapat nilai yang tidak maksimal. Itu adalah konsekuensi dari suatu tindakan yang kita ambil bukan hukuman.
Poin-poin di atas tentu akan terwujud jiwa orang tua melakukannya secara konsisten dan terus menerus dengan sabar.

Oleh: Yuliana Friskida, S.Pd.