Prev Next
Image
Warta Sepekan

TERUS MENERUS DIPERBAHARUI

06 MEI 2018

“Karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya” Kolose 3:9-10

Jemaat di Kolose adalah salah satu dari beberapa jemaat yang mendapat kehormatan untuk dikirimi surat oleh Rasul Paulus walaupun kota Kolose adalah kota yang kecil dan tidak begitu penting dalam era itu. Namun di tengah kesibukannya, Rasul Paulus meluangkan waktu untuk menulis surat bagi jemaat di Kolose.

Jika kita membaca Kitab Kolose ini, maka kita akan menemukan bahwa jemaat di Kolose adalah jemaat yang sudah memiliki iman kepada Tuhan Yesus Kristus, hidup dalam kasih dan memiliki pengharapan akan hidup yang kekal lewat pemberitaan Injil. Namun ternyata ada masalah pengajaran dalam jemaat Kolose yang kemudian berpengaruh kepada perilaku hidup mereka sehari-hari. [Kol 1:3-6]

 

Highlight

Jemaat di Kolose adalah jemaat yang sudah memiliki iman kepada Tuhan Yesus Kristus,

Jemaat di Kolose adalah jemaat yang sudah mengalami kelahiran baru, tetapi mereka masih dipengaruhi dengan kebiasaan hidup yang lama. Mereka tidak menyadari bahwa sebagai orang yang sudah percaya kepada Kristus harus hidup dalam realitas yang baru. “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.” (Kol 2:6)

Ketika seseorang percaya kepada Yesus, maka orang tersebut mengalami sebuah transformasi. Transformasi ini bukan hanya sebuah ide atau pengharapan, tetapi kenyataan. Paulus menulis surat kepada jemaat di Korintus; “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Kor 5:17)

Orang Kristen bukan diharapkan menjadi ciptaan yang baru, tetapi sebenarnya Ia sungguh-sungguh telah menjadi ciptaan yang baru. Bahkan Paulus menegaskan bahwa “yang lama SUDAH berlalu, yang baru SUDAH datang.”
Kepada jemaat di Kolose, Paulus juga menegaskan kebenaran yang sama;
“Sebab kamu TELAH mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah” (Kol 3:3). “Karena kamu TELAH menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan TELAH mengenakan manusia baru” (Kol 3:9-10).

Jadi ada realitas baru yang sudah terjadi kepada semua orang percaya. Namun seperti yang dialami oleh jemaat di Kolose, banyak orang Kristen tidak menyadari realitas ini. Akibatnya walaupun mereka sudah menjadi orang Kristen tetapi dalam kehidupan selanjutnya, masih hidup dengan cara hidup yang lama. Hal ini terjadi karena mereka tidak memiliki pengetahuan yang lengkap atas kebenaran ini, sebaliknya mengikuti cara berpikir dunia; “Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus” (Kol 2:8).

MEREALISASIKAN KEHIDUPAN BARU YANG SUDAH DIANUGERAHKAN KEPADA KITA

1. MENGERTI POSISI KITA YANG BARU
“Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih” (Kol 1:13)

Kata Yunani untuk “memindahkan” dalam ayat tersebut adalah “methistemi” yang memiliki pengertian sama seperti ketika sebuah kerajaan mengalahkan kerajaan lain dan mengangkut seluruh penduduk yang ditaklukan itu ke negara mereka. Inilah yang terjadi kepada orang percaya. Dulu kita hidup dalam kerajaan kegelapan, mengikuti hukum kerajaan kegelapan dan menjalani tujuan kerajaan kegelapan, tetapi Tuhan telah memindahkan kita ke dalam Kerajaan Yesus Kristus. Artinya kita sudah memiliki kewarganegaraan baru, Raja baru, hukum baru dan tujuan hidup yang baru.

Oleh karena itu sebagai orang percaya, pengaruh dari kerajaan kegelapan seharusnya semakin lama semakin berkurang dalam kehidupan kita, sebaliknya pengaruh dari kerajaan Allah semakin nyata. Iblis akan berusaha untuk menghalangi, mempengaruhi bahkan berusaha untuk membuat kita keluar dari realitas baru ini. Namun ingat Iblis hanya bisa menyerang kita dengan “tipu muslihat”. Oleh karena itu kita harus mengetahui apa yang benar supaya kita bisa mengenali apa yang merupakan tipuan. [Ef 6:11]

“Kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna, sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah” (Kol 1:9-10)

2. JANGAN MENGIKUTI CARA-CARA DUNIA
“Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia:… Peraturan-peraturan ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi” (Kol 2:20, 23)

Paulus memperingatkan jemaat di Kolose atas pengajaran yang mengedepankan peraturan-peraturan; yang sepertinya baik dan penuh hikmat, tetapi sebenarnya buatan manusia dan hanya untuk memuaskan nafsu kedagingan. Contohnya; ritual dan tradisi tertentu yang berlebihan dianggap sebagai esensi ibadah.

Orang percaya memang wajib untuk beribadah, tetapi ibadah kita adalah sebagai respon terhadap keselamatan yang diberikan oleh Tuhan Yesus Kristus, bukan sekedar supaya beribadah. Paulus mengingatkan kita jika orang Kristen mengejar peraturan-peraturan itu, pada dasarnya hanyalah untuk memuaskan kedagingan dan akhirnya menyombongkan diri. Di hadapan Tuhan, semua perbuatan baik yang dikerjakan dengan kekuatan sendiri tidak ada nilainya. “Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor.” (Yes 64:6a)
Rasul Paulus juga menegur jemaat di Galatia yang memiliki masalah serupa. Mereka orang-orang yang sudah menerima keselamatan tetapi kemudian mengandalkan diri sendiri saat mengerjakan keselamatan.
“Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging?” (Gal 3:3)

Lalu bagaimanakah seharusnya kita hidup sebagai orang percaya? Apakah karena usaha kita tidak berarti, artinya tidak perlu berbuat baik? Sekali-kali tidak! Paulus menulis kepada jemaat di Filipi; “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, … karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” (Fil 2:12a-13)

Kita harus mengerjakan (work out) keselamatan, artinya memperlihatkan buah dari keselamatan kita dengan hidup kudus. Kita melakukannya dengan takut dan gentar karena Allah sudah terlebih dahulu mengerjakannya di dalam kita (work in). Yakobus menulis bahwa perbuatan baik adalah bagian yang sangat integral dalam kehidupan orang percaya. [Yak 4:17]

3. PIKIRKAN PERKARA-PERKARA YANG DI ATAS
“Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” (Kol 3:1-2)
Apa yang Yesus lakukan setelah kebangkitan-Nya?
Yesus meninggalkan kuburan-Nya
Yesus melayani orang-orang percaya
Yesus hidup dalam kemuliaan dan kuasa
Yesus menantikan pengangkatan-Nya ke sorga

Demikian juga yang harus dilakukan oleh setiap orang percaya; menyadari bahwa kewarganegaraan kita adalah di sorga.
“Karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya” (Kol 3:9-10)

Tuhan sudah mengaruniakan kepada kita suatu hidup yang baru, kehidupan yang baru ini direalisasikan secara progresif, terus menerus melalui proses kehidupan kita dengan tujuan agar kita kembali serupa dan segambar dengan Allah, menjadi seperti Yesus. Amin. (PT)