Prev Next
Image
Warta Sepekan

Era Pentakosta

22 JULI 2018

Dalam agama Yahudi, ada tujuh perayaan yang harus dilakukan oleh orang Israel. Beberapa perayaan tersebut wajib dilakukan di Yerusalem, yaitu Hari Raya Paskah, Hari Raya Tujuh Minggu (Pentakosta) dan Hari Raya Pondok Daun.

 

Pada bagian akhir dari pelayanan-Nya di bumi, Yesus pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah bersama dengan orang-orang Yahudi yang lain. Hari Raya Paskah dirayakan oleh orang Israel untuk memperingati bagaimana orang Israel dibebaskan dari perbudakan Mesir dengan pertolongan Tuhan dengan lambang darah anak domba yang tercurah (Kel 12). Yesus lah yang kemudian menjadi Anak Domba Paskah (1 Kor 5:7) yang mencurahkan darah-Nya untuk membebaskan seluruh umat manusia dari perbudakan dosa, lewat kematian-Nya di kayu salib.

Hal tersebut terjadi dengan disaksikan banyak orang Yahudi yang saat itu berkumpul di Yerusalem untuk merayakan Paskah. Sebagian besar dari mereka ikut berteriak “Salibkan Dia!” (Yoh 19:15, Kis 2:23). Tiga hari kemudian, pada hari Minggu, saat orang Yahudi merayakan hari raya Buah Sulung (Im 23:10-11), Yesus bangkit dari kematian. Yesus menjadi yang pertama bangkit dari kematian diantara orang-orang percaya (1 Kor 15:20,23).


Lima puluh hari kemudian, orang-orang Yahudi yang sama, kembali ke Yerusalem untuk merayakan Hari Raya Tujuh Minggu (Im 23:17). Orang-orang Yahudi Helenestik menyebut Hari Raya Tujuh Minggu dengan bahasa Yunani “Pentakosta”, yang artinya lima puluh, yaitu tujuh minggu sejak Hari Raya Paskah. Bagi orang Yahudi, Hari Raya Pentakosta dirayakan untuk memperingati panen raya. Selain itu, orang Yahudi juga mengaitkan Hari Raya Tujuh Minggu dengan peristiwa turunnya hukum Taurat kepada orang Israel di Gunung Sinai. Orang Israel sering menyebut Hari Raya Pentakosta sebagai “shimchath torah” atau Sukacita Taurat. Jika ribuan tahun sebelumnya Tuhan menurunkan Taurat kepada orang Israel, pada hari itu Tuhan menurunkan berkat sorgawi lain kepada seluruh manusia yaitu pencurahan Roh Kudus kepada seluruh umat manusia.

Ketika pencurahan Roh Kudus pertama kali terjadi kepada 120 murid-murid Tuhan Yesus di loteng atas di Yerusalem, terjadi peristiwa yang menggemparkan kota Yerusalem. Dimulai dengan bunyi seperti tiupan angin keras yang membuat orang-orang Yerusalem berkerumun, mungkin ingin mengetahui asal dari bunyi tersebut (Kis 2:6). Kemudian muncul lidah-lidah seperti nyala api hinggap pada seluruh murid-murid dan mereka mulai berkata-kata mengenai perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah (Kis 2:11) dalam bahasa-bahasa yang dapat dimengerti oleh orang-orang Yahudi dari segala bangsa yang sedang berkumpul di Yerusalem (Kis 2:6-11). Karena murid-murid berasal dari daerah Galilea yang merupakan daerah pedesaan dibandingkan dengan kota Yerusalem, banyak dari orang banyak yang tidak percaya dan menganggap para murid itu sedang mabuk. Pada saat itulah Petrus, nelayan sederhana dari daerah Galilea kemudian tampil dan mulai mengajar dalam kuasa Roh Kudus kepada orang banyak pada saat itu.
"Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini. Orang-orang ini tidak mabuk seperti yang kamu sangka, karena hari baru pukul sembilan, tetapi itulah yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi Yoel: Akan terjadi pada hari-hari terakhir--demikianlah firman Allah--bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi. Juga ke atas hamba-hamba-Ku laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu dan mereka akan bernubuat.” (Kis 2:16-18)

Petrus memulai pengajarannya dengan mengutip dari kitab Nabi Yoel (Yoel 2:28-31). Yoel menubuatkan bahwa akan ada satu saat sebelum kedatangan Tuhan di mana Tuhan akan mencurahkan Roh-Nya kepada seluruh manusia. Di dalam kitab-kitab Perjanjian Lama, ada banyak catatan dari pekerjaan Roh Kudus, namun tidak kepada seluruh manusia, hanya kepada orang-orang tertentu saja, untuk tujuan pekerjaan tertentu saja, dan waktu tertentu saja.
Yusuf dipenuhi dengan Roh Allah sehingga dapat mengartikan mimpi Firaun (Kej 41:38),
Bezaleel dipenuhi dengan Roh Allah untuk membuat perabotan kemah suci (Kel 31:3).
Yosua dipenuhi dengan Roh Allah untuk mendampingi Musa (Bil 27:18),
Otniel, Gideon, Yefta, Simson dipenuhi dengan Roh Allah agar dapat bertugas sebagai hakim-hakim (Hak 3:10; 6:34; 11:29; 13:5).
Saul dipenuhi dengan Roh Allah agar dapat bertugas sebagai raja (1 Sam 10:9-10), walaupun akhirnya Roh Allah undur dari Saul ketika Saul melanggar perintah Allah (1 Sam 18:12),
Daud dipenuhi dengan Roh Allah sehingga dapat melakukan tugasnya sebagai pahlawan, pemazmur dan raja (1 Sam 16:13)

Pada awalnya orang-orang Yahudi yang menyaksikan peristiwa Pentakosta tidak akan menerima bagaimana orang-orang biasa yang bukan dari kalangan imam atau nabi, bisa mengalami kepenuhan Roh Allah seperti para tokoh di Perjanjian Lama. Bukankah para murid tersebut hanyalah orang-orang sederhana dan tidak terpelajar, bukan ahli kitab maupun pemuka agama. Dalam nubuatnya, Yoel melihat saat dimana ada Perjanjian yang baru antara Tuhan dengan manusia ketika Roh Allah dicurahkan atas semua manusia, baik anak-anak, teruna maupun orang tua, atas laki-laki maupun perempuan.

Pentakosta menjadi sebuah tonggak sejarah dimulainya suatu era baru, yaitu era dimana Tuhan bekerja melalui semua orang yang percaya kepada-Nya. Karena Pentakosta lah maka gereja didirikan. Sebelum kenaikan-Nya ke sorga, Tuhan Yesus memberikan pesan kepada murid-murid-Nya “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kis 1:8). Tujuan Roh Kudus dicurahkan adalah agar semua murid-Nya, yaitu orang yang percaya kepada-Nya memiliki kuasa untuk memberitakan injil keselamatan. Inilah era yang sedang kita jalani.

Jika kita memperhatikan nubuat Yoel maka kita akan melihat bahwa puncak dari pencurahan Roh Kudus ini adalah hari kedatangan Tuhan (Yoel 2:31; Yoel 2:1). Hal inilah yang juga menjadi konteks pengajaran Petrus: “Akan terjadi pada hari-hari terakhir” (Kis 2:17). Ketika Yesus menjanjikan pencurahan Roh Kudus, konteksnya pun mengenai kedatangan-Nya yang kedua kali (Kis 1:6-7). Ketika Yesus naik ke Sorga para malaikat yang munculpun mengingatkan murid-murid bahwa Yesus akan datang kembali (Kis 1:11). Pentakosta adalah masa yang dimulai dengan kenaikan Yesus ke sorga dan diakhiri dengan kedatangan-Nya yang kedua kali. Ketika Pentakosta pertama kali terjadi, 3000 orang bertobat dan menjadi percaya, itulah “panen raya” jiwa-jiwa yang pertama. Tentunya puncak dari Pentakosta akan kembali terjadi panen raya jiwa-jiwa yang jauh lebih besar lagi, demikian besar dan dahsyatnya sehingga orang Israel yang sekarang menjadi tegar dan tidak percaya akan bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan, Mesias dan Juruselamat mereka (Yoel 2:27,32).

Kebenaran ini sangatlah penting bagi kita. Sebagai orang percaya, kitalah yang mengalami pencurahan Roh Kudus ini. Tuhan tidak hanya memberikan kuasa kepada orang-orang tertentu saja, tetapi kepada semua orang yang percaya. Jadi tidak ada orang percaya yang bisa berkata bahwa bagi mereka cukup sekedar rajin datang ke gereja untuk beribadah, tanpa mau terlibat dalam pelayanan. Dalam Perjanjian yang baru, setiap orang percaya dapat menerima seluruh kepenuhan Roh Kudus dan dapat dipakai Tuhan secara spesial dan dengan cara yang ajaib. Pekerjaan Tuhan tidak terbatas hanya kepada para “hamba Tuhan” saja, tetapi untuk seluruh jemaat. Memang ada beberapa jawatan khusus (Ef 4:11) namun fungsinya adalah untuk memperlengkapi orang-orang kudus untuk dapat melayani Tuhan (Ef 4:12). Jadi sebenarnya gereja adalah tempat di mana jemaat dilatih hingga akhirnya dapat melayani di tempat mereka masing-masing.

Pentakosta adalah suatu era yang luar biasa. Kasih karunia dan kuasa Tuhan tercurah untuk dunia ini. Namun ingatlah era ini tidaklah untuk selama-lamanya. Suatu saat Tuhan akan datang kembali. Kita orang percaya memiliki pengharapan bahwa kita akan bertemu dengan Tuhan dan tinggal bersama dengan dia untuk selama-lamanya. Sementara kita menantikan hal tersebut, jika kita masih ada di dunia ini, kita diberikan kuasa untuk melayani Tuhan, menjadi saksi melalui perjalanan kehidupan kita bersama Tuhan sehingga banyak orang dapat diselamatkan. Ingatlah akan keluarga, saudara dan teman-teman kita yang membutuhkan keselamatan yang kekal dari Tuhan. Kita bisa melakukannya bukan dengan kekuatan kita sendiri tetapi dengan kuasa dari Sorga. Amin. (PT)