Prev Next
Image
Warta Sepekan<

Percikan Api Kamar Loteng

02 SEPTEMBER 2018

Adalah satu kenyataan sejarah bahwa Gereja lahir dari event pencurahan Roh Kudus di Kamar Loteng Yerusalem. Ini adalah kelahiran suatu Gereja baru yang merupakan kontinuitas daripada Gereja Perjanjian Lama; untuk meneruskan peletakan prinsip-prinsip Kerajaan Allah dimuka bumi.

 

“Janganlah engkau menyangka bahwa Aku datang untuk membatalkan hukum Taurat…” Mat. 5:17

Sama seperti Gereja Perjanjian Lama memiliki hukum-hukum Taurat yang mengukir karakteristiknya, demikian pula Roh Kudus mengukirkan hukum-hukum Taurat yang diperbaharui didalam hati setiap orang Kristen di jaman Kasih Karunia ini. Hal ini selaras dengan pernyataan yang fundamental dari Tuhan Yesus:

“Janganlah engkau menyangka bahwa Aku datang untuk membatalkan hukum Taurat…” Mat. 5:17
Namun kemudian Dia menyatakan pula bahwa:

“Kamu akan beroleh kuasa bila Roh Kudus (sudah) turun atas kamu; dan kamu akan (bisa) menjadi saksi-Ku…” Kis. 1:8

Dan segera setelah peristiwa Pentakosta Pertama itu, Gereja secara spontan, secara naluriah, secara alamiah mengekspresikan nilai-nilai, karakter-karakter yang diperlihat-kan dan diajarkan oleh Tuhan Yesus selama tiga setengah tahun di bumi.
1. Hati Yang Taat dan Setia

Kesetiaan pada hakekatnya adalah ketaatan yang terus menerus.
Kita melihat ciri-ciri itu dalam jejak pelayanan Filipus. Ketaatan dan kesetiaan Filipus terlihat ketika dalam masa diaspora.

Ketika rasul-rasul lain diarahkan untuk menyebar kedaerah-daerah yang relatif nyaman, Filipus harus ke Samaria untuk menjangkau komunitas yang sejak turun-menurun ditolak oleh orang Yahudi. Dia memutuskan untuk taat, dan dengan sepenuh hati melakukan perintah Roh Kudus sehingga banyak orang menerima Kristus diseluruh Samaria.
Dampaknya: Samaria dimenangkan oleh ketaatan Filipus.

Selesai melakukan misinya di Samaria Roh Kudus mengarahkannya untuk berjalan dari Yerusalem ke Gaza, suatu trayek yang hampir tidak pernah dilalui orang; betapa tidak? Gaza bukan destinasi yang keren buat orang Yerusalem. Tidak ada orang Yerusalem yang pada musim liburan kemudian berangan-angan ingin pergi kesana. Namun demikian Filipus taat, dan ketaatan itu membawa dia kepada pertemuan dan pertobatan seorang pembesar Ethiopia. Dari pembesar itulah Injil kemudian diperkenalkan ke negeri Ethiopia.

Dampaknya: Ethiopia dimenangkan melalui ketaatan Filipus
Perluasan Injil Kerajaan hanya bisa terjadi jika ada murid-murid yang taat dan setia kepada tuntunan Roh Kudus.

2. Hati Yang Lapang Terhadap Petobat Baru

Alkitab menulis bahwa Barnabas adalah orang yang baik dan penuh iman. Kebaikan hatinya terlihat ketika ia melihat betapa Saulus setelah pertobatannya melayani Kristus di Tarsus dengan sungguh-sungguh dengan menanggung stigma negatif yang berkelanjutan sebagai mantan penganiaya Gereja. Dan Barnabas kemudian memutuskan untuk mengunjungi Saulus di Tarsus.

Barnabas beriman bahwa Tuhan benar-benar sanggup menghapus masa lalu pendosa sekaliber apapun; asalkan ia bertobat dengan sepenuh hatinya. Dan ia percaya Saulus telah mengalami kebenaran itu, sementara rasul-rasul lain masih mencurigai dan mewaspadai Saulus.
Dari Tarsus, Barnabas membawa Saulus pergi bersama-sama melayani di Antiokhia selama setahun, sebelum akhirnya merekomen-dasikan Saulus menjadi salah satu rasul.
Dampaknya: Dikemudian hari Paulus menjadi salah satu rasul yang paling fenomenal diantara rasul-rasul yang lain.
Gereja mula-mula berhati lapang dan tidak menutup pintu terhadap para petobat baru yang hidupnya dipulihkan bahkan berani mem-promosikan menjadi seorang pelayan pergerak-an kebangunan rohani.

3. Tangan yang Terbuka Terhadap Bangsa-Bangsa
Petrus diberikan penglihatan disertai perintah untuk memakan binatang-binatang yang haram menurut prinsip Taurat. Penolakan-nya untuk memakan binatang haram tersebut menandai bahwa ada bagian dari dirinya yang masih belum menerima statement Tuhan Yesus dalam deregulasi dan pembaharuan hukum tentang makanan :
“Apa yang masuk melalui mulut tidak najis. Yang najis adalah apa yang keluar dari hati manusia.” Mat. 15:11
Sebenarnya makna makanan dalam penglihatan Petrus itu, adalah seperti yang pernah dikatakan oleh Tuhan Yesus:
“Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Bapa-ku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Joh. 4:34
Apa itu menyelesaikan pekerjaan Bapa Sorgawi? Ialah menjangkau semua bangsa; tanpa kecuali. Dalam hal inilah, tidak ada bangsa yang masuk kategori makanan yang najis atau haram.
Dan dampak dari terobosan paradigma Petrus adalah Injil mengalami internasionali-sasi; di ekspor ke bangsa-bangsa dengan meniadakan apriori, paranoid dan trauma tentang perbuatan yang pernah dilakukan oleh sebuah suku, kaum dan bangsa terhadap orang percaya.

Percikan-percikan peristiwa tersebut sepenuhnya mengekspresikan prinsip-prinsip yang digariskan oleh Tuhan Yesus, yang setelah kita dipenuhi oleh Roh Kudus baru dapat kita terjemahkan dalam hidup kita. Tuhan Yesus menyatakan bahwa kita akan memiliki kuasa untuk meneruskan dan menyelesaikan pekerjaan-Nya, hanya jika Roh Kudus dicurah-kan memenuhi hidup kita.
Gereja Akhir Jaman yang lahir dalam era Pentakosta Ketiga perlu bergerak dalam semangat dan gesture yang sama dengan Gereja Mula-mula. Hanya dengan cara itu kita dapat memenuhi harapan Tuhan Yesus atas angkatan ini.
Roh Kudus lah yang menjadi sumber kuasa/ kemampuan/ kesanggupan/ keteguhan dan kelapangan hati/ ketekunan/ kesabaran/ kerelaan/ kerendahan hati/ ketaatan dan kesetiaan yang dibutuhkan untuk membentuk kita menjadi sebuah angkatan yang menjadi bagian inti dari Gereja Akhir Jaman.
Kita akan melihat fenomena-fenomena Gereja Mula-Mula akan berulang kembali di masa kini, yaitu:
Orang-orang muda yang mencintai Tuhan dengan memperlihatkan ketaatan dan kesetiaan mereka untuk menjadi pelayan pergerakan, seperti Filipus.
Hamba-hamba Tuhan yang diurapi oleh Tuhan sebagai pelayan-pelayan pemulihan yang membangkitkan suatu angkatan petobat baru yang kemudian akan menjadi pelayan pergerak-an yang militan, seperti Paulus.
Gereja-gereja yang bersikap terbuka dan menjadi penjangkau segala kaum dengan tidak mempertimbangkan atau memperdulikan latar belakang sejarah bangsa, etnik, suku, dan kaum tersebut.

Dengan demikian pelaksanaan Amanat Agung akan mencapai puncaknya, dan saat pengangkatan Gereja akan segera tiba. (RT)