Prev Next
Image
Warta Sepekan

Bahaya Pengetahuan Tanpa Hubungan

18 Maret 2018

Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, ingatlah akan apa yang dahulu telah dikatakan kepada kamu oleh rasul-rasul Tuhan kita, Yesus Kristus. Sebab mereka telah mengatakan kepada kamu: “Menjelang akhir zaman akan tampil-tampil pengejek-pengejek yang akan hidup menuruti hawa nafsu kefasikan mereka.” Mereka adalah pemecah belah yang dikuasai hanya oleh keinginan-keinginan dunia ini dan yang hidup tanpa Roh Kudus. Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus.”
(Yudas 18-20)

Salah satu bahaya yang dihadapi gereja mula-mula adalah gnostisisme yang menyebar dengan sangat luas di abad pertama. Gnostisisme adalah paham yang mengajarkan bahwa Allah yang sebenarnya berada di dalam suatu dunia yang sama sekali terpisah dengan dunia materi dan tidak dapat dimengerti oleh nalar manusia biasa.

Highlight

Gnostisisme adalah paham yang mengajarkan bahwa Allah yang sebenarnya berada di dalam suatu dunia yang sama sekali terpisah dengan dunia materi dan tidak dapat dimengerti oleh nalar manusia biasa.

Gnostisisme sama sekali menyangkali bahwa Allah yang berdiam di alam rohani mau mengambil inisiatif untuk menjembatani jurang pemisah itu dan masuk ke dalam alam jasmani.

Saudara kembar dari Gnostisisme adalah paham Dualisme yang berkata bahwa segala sesuatu terdiri dari dua sisi (terang dan gelap, panas dan dingin, baik dan jahat, jasmani dan rohani). Sampai pada tahap ini kelihatannya ajaran ini setuju dengan pengajaran Firman Tuhan, memang ada dua dunia yaitu satu yang kelihatan dan satu yang tidak kelihatan. Yang tidak kelihatan disebut alam rohani dan yang kelihatan disebut alam jasmani. Alam rohani lebih nyata, lebih kekal, dan lebih berkuasa dari alam jasmani. Sampai di titik inipun Gnostisisme dan Dualisme masih dapat sejalan dengan ajaran firman Tuhan.

Namun pada poin yang ketiga di sinilah titik perbedaannya. Gnostisisme sama sekali menyangkali bahwa Allah yang berdiam di alam rohani mau mengambil inisiatif untuk menjembatani jurang pemisah itu dan masuk ke dalam alam jasmani.

Di dalam pengalaman-pengalaman leluhur iman bangsa Israel (Musa dan para nabi berjumpa dengan kemuliaan Tuhan) dan terutama ketika Yesus Kristus yang adalah Allah sendiri di dalam rupa manusia menjembatani keterpisahan kedua dunia itu (1 Yohanes 4:1-3).

Guru-guru Gnostisisme dengan beraninya berkata bahwa hanya merekalah yang mengetahui rahasia alam ataupun rahasia Ilahi yang dapat membuka kunci (portal) yang menyatukan kedua dunia tersebut. Gnostisisme bertumbuh subur di dunia Greko Romawi sedangkan di dunia Yahudi ajaran yang sama nyata di dalam bentuk ajaran Kabbalah. Menarik sekali jika kita perhatikan bahwa di dalam belahan bumi timur Daoisme memiliki semangat yang sama yaitu mereka mengerti “Logos” (Dao/Firman) adalah penguasa alam semesta yang mengatur segalanya. Jika Anda mengerti “Dao/Logos/Firman” maka Anda dapat memanfaatkannya untuk kepentingan-kepentingan Anda selama Anda sadar bahwa keseimbangan di dalam Dualisme tadi tetap terpelihara. Filosofi inilah yang laku dijual di dunia hiburan populer yang dikenal dalam serial Starwars sebagai “The Force”.

Di dalam kitab Kisah Para Rasul 8:18-19 kita melihat seorang yang bernama Simon, di dalam Alkitab berbahasa Inggris seringkali dia disebut Simon Magus, Ia sangat kagum melihat demonstrasi kuasa Roh Kudus yang terjadi ketika Petrus menumpangkan tangannya kepada orang banyak. Ia menawarkan sejumlah uang kepada Petrus supaya ia diajari rahasia untuk mendapatkan kuasa Roh Kudus tersebut. Di dalam kitab Kisah Para Rasul 19:13 kita melihat seorang tukang jampi Yahudi bernama Skewa yang memiliki 7 anak laki-laki yang berusaha meniru apa yang dilakukan Paulus ketika mengusir setan diantara orang banyak. Ia menyangka bahwa kuasa terletak di dalam rumusan/formula yang tepat. Jika kita telaah lebih lanjut sebetulnya sifat semacam ini sudah terdapat di dalam pola kejatuhan manusia.

Adam dan Hawa ditawarkan oleh iblis kesempatan untuk mandiri dari Allah dengan cara menipu mereka dengan menjanjikan bahwa merekalah yang diberikan kuasa untuk menentukan mana yang baik dan mana yang jahat. Coba direnungkan apa yang ditawarkan oleh iblis pada saat itu, di dalam keadaan manusia yang paling mendasar di Taman Eden. Dapatkah Anda menentukan mana yang baik dan mana yang jahat? Jika Anda berkata mencuri itu jahat di taman Eden, apa yang dapat Anda curi? Siapa yang dapat Anda curi? Pertanyaan yang lebih penting lagi: buat apa Anda mencuri? Jika Anda berkata membunuh itu jahat selain Adam dan Hawa siapakah yang dapat di bunuh? Buat apa mereka membunuh? Jika dikatakan berzinah itu jahat; dengan siapa Adam dan Hawa dapat berzinah? Tantangan iblis kepada manusia bukanlah di dalam bidang perbuatan tetapi di dalam pengertian bahwa benar-salah, baik-jahat, terang-gelap, positif-negatif dapat mereka tentukan sendiri; mereka dapat mengetahui rahasianya, terlepas dari hubungan mereka dengan Allah. Di taman Eden hanya ada satu hal yang dapat dikatakan jahat yaitu manusia sebagai makhluk ciptaan memilih untuk memberontak kepada Allah, tidak merasa membutuhkan-Nya, dan menolak untuk menggenapi tujuan dan rencana Allah, malahan membuat tujuannya sendiri.

Di dalam konteks masyarakat modern yang pluralis di mana kita hidup sekarang, kita akan banyak bertemu dengan banyak faham dan ajaran lain di luar kekristenan. Sebagai anggota masyarakat yang aktif terlibat dalam kehidupan komunitas kita, kita tidak dapat selalu memaksakan faham kristiani di dalam segala aspek kehidupan. Kita harus dapat mengakui dan menghargai hal-hal yang benar yang terdapat dalam ajaran agama dan filosofi lain. Banyak orang berkata “agama X juga mengajarkan untuk saling mengasihi…” “agama Y juga mengajarkan untuk manusia hidup saleh”. Kalaupun kita setuju dengan apa yang mereka katakan (meskipun belum tentu 100% setuju), tetapi pertanyaan yang lebih mendalam dari mana kita mendapat kekuatan untuk melakukan hal-hal yang di atas?

Di dalam Yohanes 15:1-5 Yesus berkata bahwa murid-murid-Nya memang sudah dibersihkan oleh karena Firman yang telah mereka terima, tetapi mereka tidak dapat menghasilkan buah jika mereka tidak tinggal di dalam-Nya. Tuhan Yesus menekankan persekutuan di atas pengetahuan.

Tuhan Yesus memuji jemaat di Efesus karena mereka membenci pengajaran pengikut-pengikut Nikolaus (Wahyu 2:6). Salah satu pengajaran Nikolaus adalah Gnostisisme. Di dalam bahasa Yunani Nikolaus terdiri dari 2 suku kata; Nikon artinya menang/pemenang dan Laos artinya Rakyat. Memang kita tidak dapat menyimpulkan apa-apa dari arti nama tersebut, kelihatannya Nikolaus adalah seseorang yang melalui pengajarannya dapat ”menaklukkan dan memimpin orang banyak”; menjauhi persekutuan dengan Tuhan dan seolah-olah memperoleh kemenangan karena mengetahui rahasia perkara-perkara rohani dan duniawi.

Sebagai orang Kristen haruslah kita ingat bahwa kuasa dan otoritas lahir sebagai hasil persekutuan, keintiman dan ketaatan kepada Tuhan bukan hanya sekedar pengetahuan dan pengertian mengenai prinsip yang mengatur tentang kenyataan. Jika kita berusaha memisahkan kedua hal itu mungkin secara tidak langsung kita sudah berubah menjadi pengikut Nikolaus. (AB)